LEADERSHIP (KEPEMIMPINAN)

LEKEPEMIMPINAN

PENGERTIAN

Kepemimpinan adalah proses memengaruhi atau memberi contoh oleh pemimpin kepada pengikutnya dalam upaya mencapai tujuan organisasi. Cara alamiah mempelajari kepemimpinan adalah “melakukannya dalam kerja” dengan praktik seperti pemagangan pada seorang seniman ahli, pengrajin, atau praktisi. Dalam hubungan ini sang ahli diharapkan sebagai bagian dari peranya memberikan pengajaran/instruksi.

Kebanyakan orang masih cenderung mengatakan bahwa pemimipin yang efektif mempunyai sifat atau ciri-ciri tertentu yang sangat penting misalnya, kharisma, pandangan ke depan, daya persuasi, dan intensitas. Dan memang, apabila kita berpikir tentang pemimpin yang heroik seperti Napoleon, Washington, Lincoln, Churcill, Sukarno, Jenderal Sudirman, dan sebagainya kita harus mengakui bahwa sifat-sifat seperti itu melekat pada diri mereka dan telah mereka manfaatkan untuk mencapai tujuan yang mereka inginkan.

Pemimpin adalah seorang pribadi yang memiliki kecakapan dan kelebihan – khususnya kecakapan-kelebihan di satu bidang , sehingga dia mampu mempengaruhi orang lain untuk bersama-sama melakukan aktivitas-aktivitas tertentu untuk pencapaian satu beberapa tujuan.

Pemimpin jika dialihbahasakan ke bahasa Inggris menjadi “LEADER”, yang mempunyai tugas untuk me-LEAD anggota disekitarnya. Sedangkan makna LEAD adalah :

  • Loyality, seorang pemimpin harus mampu membagnkitkan loyalitas rekan kerjanya dan

memberikan loyalitasnya dalam kebaikan.

  • Educate, seorang pemimpin mampu untuk mengedukasi rekan-rekannya dan mewariskan
  • tacit knowledge pada rekan-rekannya.
  • Advice, memberikan saran dan nasehat dari permasalahan yang ada
  • Discipline, memberikan keteladanan dalam berdisiplin dan menegakkan kedisiplinan dalam setiap aktivitasnya.

Dalam suatu organisasi , kepemimpinan merupakan factor yang sangat penting dalam menentukan percapaian tujuan yang telah ditetapkan oleh organisasi.

Factor-faktor penting yang terdapat dalam pengertian kepemimpinan sebagai berikut :

  • Pendayagunaan Pengaruh.
  • Hubungan Antar Manusia.
  • Proses Komunikasi.
  • Pencapaian Suatu Tujuan.

Pimpinan yang dapat dikatakan sebagai pemimpin setidaknya memenuhi beberapa kriteria,yaitu :

  • Pengaruh : Seorang pemimpin adalah seorang yang memiliki orang-orang yang mendukungnya yang turut membesarkan nama sang pimpinan.
  • Kekuasaan/power : Seorang pemimpin umumnya diikuti oleh orang lain karena dia memiliki kekuasaan/power yang membuat orang lain menghargai keberadaannya.
  • Wewenang : Wewenang di sini dapat diartikan sebagai hak yang diberikan kepada pemimpin untuk fnenetapkan sebuah keputusan dalam melaksanakan suatu hal/kebijakan.
  • Pengikut : Seorang pemimpin yang memiliki pengaruh, kekuasaaan/power, dan wewenang tidak dapat dikatakan sebagai pemimpin apabila dia tidak memiliki pengikut yang berada di belakangnya yang memberi dukungan dan mengikuti apa yang dikatakan sang pemimpin.

JENIS-JENIS KEPEMIMPINAN

Tipe Pemimpin Otokratis

Tipe pemimpin ini menganggap bahwa pemimpin adalah merupakan suatu hak.

Ciri-ciri pemimpin tipe ini adalah sebagai berikut :

  • Menganggap bahwa organisasi adalah milik pribadi
  • Mengidentikkan tujuan pribadi dengan tujuan organisasi.
  • Menganggap bahwa bawahan adalah sebagai alat semata-mata
  • Tidak mau menerima kritik, saran dan pendapat dari orang lain karena dia menganggap dialah yang paling benar.
  • Selalu bergantung pada kekuasaan formal Dalam menggerakkan bawahan sering mempergunakan pendekatan (Approach) yang mengandung unsur paksaan dan ancaman.

Dari sifat-sifat yang dimiliki oleh tipe mimpinan otokratis tersebut di atas dapat diketahui bahwa tipe ini tidak menghargai hak-hak dari manusia, karena tipe ini tidak dapat dipakai dalam organisasi modern.

Tipe Kepemimpinan Militeristis

Perlu diparhatikan terlebih dahulu bahwa yang dimaksud dengan seorang pemimpin tipe militeristis tidak sama dengan pemimpin-pemimpin dalam organisasi militer. Artinya tidak semua pemimpin dalam militer adalah bertipe militeristis.

Seorang pemimpin yang bertipe militeristis mempunyai sifat-sifat sebagai berikut :

  • Dalam menggerakkan bawahan untuk yang telah ditetapkan, perintah mencapai tujuan digunakan sebagai alat utama.
  • Dalam menggerakkan bawahan sangat suka menggunakan pangkat dan jabatannya.Sonang kepada formalitas yang berlebihan
  • Menuntut disiplin yang tinggi dan kepatuhan mutlak dari bawahan
  • Tidak mau menerima kritik dari bawahanMenggemari upacara-upacara untuk berbagai keadaan.

Dari sifat-sifat yang dimiliki oleh tipe pemimpin militeristis jelaslah bahwa ripe pemimpin seperti ini bukan merupakan pemimpin yang ideal.

 

 Tipe Pemimpin Paternalistis

Tipe kepemimpinan fathornalistis, mempunyai ciri tertentu yaitu bersifat fathernal atau kepakan.ke Pemimpin seperti ini menggunakan pengaruh yang sifat kebapaan dalam menggerakkan bawahan mencapai tujuan. Kadang-kadang pendekatan yang dilakukan sifat terlalu sentimentil.

Sifat-sifat umum dari tipe pemimpin paternalistis dapat dikemukakan sebagai berikut:

  • Menganggap bawahannya sebagai manusia yang tidak dewasa.
  • Bersikap terlalu melindungi bawahanJarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengambil keputusan. Karena itu jarang dan pelimpahan wewenang.
  • Jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya tuk mengembangkan inisyatif daya kreasi.
  • Sering menganggap dirinya maha tau.

Harus diakui bahwa dalam keadaan tertentu pemimpin seperti ini sangat diporlukan. Akan tetapi ditinjau dari segi sifar-sifar negatifnya pemimpin faternalistis kurang menunjukkan elemen kontinuitas terhadap organisasi yang dipimpinnya.

Tipe Kepemimpinan Karismatis

Sampai saat ini para ahli manajemen belum berhasil menamukan sebab-sebab mengapa seorang pemimin memiliki karisma. Yang diketahui ialah tipe pemimpin seperti ini mampunyai daya tarik yang amat besar, dan karenanya mempunyai pengikut yang sangat besar. Kebanyakan para pengikut menjelaskan mengapa mereka menjadi pengikut pemimpin seperti ini, pengetahuan tentang faktor penyebab Karena kurangnya seorang pemimpin yang karismatis, maka sering hanya dikatakan bahwa pemimpin yang demikian diberkahi dengan kekuatan gaib (supernatural powers), perlu dikemukakan bahwa kekayaan, umur, kesehatan profil pendidikan dan sebagainya. Tidak dapat digunakan sebagai kriteria tipe pemimpin karismatis.

Tipe Kepemimpinan Demokratis

Dari semua tipe kepemimpinan yang ada, tipe kepemimpinan demokratis dianggap adalah tipe kepemimpinan yang terbaik. Hal ini disebabkan karena tipe kepemimpinan ini selalu mendahulukan kepentingan kelompok dibandingkan dengan kepentingan individu.

Beberapa ciri dari tipe kepemimpinan demokratis adalah sebagai berikut:

  • Dalam proses menggerakkan bawahan selalu bertitik tolak dari pendapat bahwa manusia itu adalah mahluk yang termulia di dunia.
  • Selalu berusaha menselaraskan kepentingan dan tujuan pribadi dengan kepentingan organisasi.
  • Senang menerima saran, pendapat dan bahkan dari kritik bawahannya.
  • Mentolerir bawahan yang membuat kesalahan dan berikan pendidikan kepada bawahan agar jangan berbuat kesalahan dengan tidak mengurangi daya kreativitas, inisyatif dan prakarsa dari bawahan.
  • Lebih menitik beratkan kerjasama dalam mencapai tujuan.
  • Selalu berusaha untuk menjadikan bawahannya lebih sukses daripadanya.
  • Berusaha mengembangkan kapasitas diri pribadinya sebagai pemimpin.

Dari sifat-sifat yang harus dimiliki oleh pemimpin tipe demokratis, jelaslah bahwa tidak mudah untuk menjadi pemimpin demokratis.

 

Tipe Laissez Faire

Pada tipe kepemimpinan ini praktis pemimpin tidak memimpin, dia membiarkan kelompoknya dan setiap orang berbuat semaunya sendiri. Pemimpin tidak berpartisipasi sedikit pun dalam kegiatan kelompoknya. Semua pekerjaan dan tanggung jawab harus dilakukan oleh bawahannya sendiri. Pemimpin hanya berfungsi sebagai simbol, tidak memiliki keterampilan teknis, tidak mempunyai wibawa, tidak bisa mengontrol anak buah, tidak mampu melaksanakan koordinasi kerja, tidak mampu menciptakan suasana kerja yang kooperatif. Kedudukan sebagai pemimpin biasanya diperoleh dengan cara penyogokan, suapan atau karena sistem nepotisme. Oleh karena itu organisasi yang dipimpinnya biasanya morat marit dan kacau balau.

Tipe Populistis

Kepemimpinan populis berpegang teguh pada nilai-nilai masyarakat yang tradisonal, tidak mempercayai dukungan kekuatan serta bantuan hutang luar negeri. Kepemimpinan jenis ini mengutamakan penghidupan kembali sikap nasionalisme.

Tipe Administratif/Eksekutif

Kepemimpinan tipe administratif ialah kepemimpinan yang mampu menyelenggarakan tugas-tugas administrasi secara efektif. Pemimpinnya biasanya terdiri dari teknokrat-teknokrat dan administratur-administratur yang mampu menggerakkan dinamika modernisasi dan pembangunan. Oleh karena itu dapat tercipta sistem administrasi dan birokrasi yang efisien dalam pemerintahan. Pada tipe kepemimpinan ini diharapkan adanya perkembangan teknis yaitu teknologi, indutri, manajemen modern dan perkembangan sosial ditengah masyarakat.

TEORI KEPEMIMPINAN

Beberapa teori telah dikemukakan para ahli majemen mengenai timbulnya seorang pemimpin. Teori yang satu berbeda dengan teori yang lainnya. Di antara berbagai teori mengenai lahirnya paling pemimpin ada tiga di antaranya yang paling menonjol yaitu sebagai berikut :

1. Teori Genetie

Inti dari teori ini tersimpul dalam mengadakan “leaders are born and not made”. bahwa penganut teori ini mengatakan bahwa seorang pemimpin akan karena ia telah dilahirkan dengan bakat pemimpin.Dalam keadaan bagaimana pun seorang ditempatkan pada suatu waktu ia akn menjadi pemimpin karena ia dilahirkan untuk itu. Artinya takdir telah menetapkan ia menjadi pemimpin.

2. Teori Sosial

Jika teori genetis mengatakan bahwa “leaders are born and not made”, make penganut-penganut sosial mengatakan sebaliknya yaitu :

“Leaders are made and not born”.

Penganut-penganut teori ini berpendapat bahwa setiap orang akan dapat menjadi pemimpin apabila diberi pendidikan dan kesempatan untuk itu.

 

 

3. Teori Ekologis

Teori ini merupakan penyempurnaan dari kedua teori genetis dan teori sosial. Penganut-ponganut teori ini berpendapat bahwa seseorang hanya dapat menjadi pemimpin yang baik apabila pada waktu lahirnya telah memiliki bakat-bakat kepemimpinan, bakat mana kemudian dikembangkan melalui pendidikan yang teratur dan pangalaman-pengalaman yang memungkinkannya untuk mengembangkan lebih lanjut bakat-bakat yang memang telah dimilikinya itu. Teori ini menggabungkan segi-segi positif dari kedua teori genetis dan teori sosial dan dapat dikatakan teori yang paling baik dari teori-teori kepemimpinan.Namun demikian penyelidikan yang jauh yang lebih mendalam masih diperlukan untuk dapat mengatakan secara pasti apa faktor-faktor yang menyebabkan seseorang timbul sebagai pemimpin yang baik.

KEPEMIMPINAN  MUHAMMAD SAW

muhammad-2

 

Muhammad bin Abdullāh (Arab: محمد بن عبد الله; Transliterasi: Muḥammad;[1] diucapkan [mʊħɑmmæd] ( simak); [2][3][4] (ca. 570/571 Mekkah[مَكَةَ ]/[ مَكَهْ ] – 8 Juni, 632 Madinah),[5] adalah pembawa ajaran/agama Islam, dan diyakini oleh umat Muslim sebagai nabi dan (Rasul) yang terakhir. Menurut sirah (biografi) yang tercatat tentang Muhammad, ia disebutkan lahir sekitar 20 April 570/ 571, di Mekkah (Makkah) dan wafat pada 8 Juni 632 di Madinah pada usia 63 tahun. Kedua kota tersebut terletak di daerah Hijazh, Arab Saudi. Nabi Muhammad haram digambarkan dalam bentuk patung, kartun ataupun gambar ilustrasi.

Michael H. Hart dalam bukunya The 100 menilai Muhammad sebagai tokoh paling berpengaruh sepanjang sejarah manusia. Menurut Hart, Muhammad adalah satu-satunya orang yang berhasil meraih keberhasilan luar biasa baik dalam hal spiritual maupun kemasyarakatan. Hart mencatat bahwa Muhammad mampu mengelola bangsa yang awalnya egoistis, barbar, terbelakang dan terpecah belah oleh sentimen kesukuan, menjadi bangsa yang maju dalam bidang ekonomi, kebudayaan dan kemiliteran dan bahkan sanggup mengalahkan pasukan Romawi yang saat itu merupakan kekuatan militer terdepan di dunia.

 

RIWAYAT

 

KELAHIRAN

Para penulis sirah (biografi) Muhammad pada umumnya sepakat bahwa ia lahir pada Tahun Gajah, yaitu tahun 570 M, yang merupakan tahun gagalnya Abrahah menyerang Mekkah. Muhammad lahir di kota Mekkah, di bagian Selatan Jazirah Arab, suatu tempat yang ketika itu merupakan daerah paling terbelakang di dunia, jauh dari pusat perdagangan, seni, maupun ilmu pengetahuan. Ayahnya, Abdullah[11], meninggal dalam perjalanan dagang di Madinah, yang ketika itu bernama Yastrib, ketika Muhammad masih dalam kandungan. Ia meninggalkan harta lima ekor unta, sekawanan biri-biri dan seorang budak perempuan bernama Ummu Aiman yang kemudian mengasuh Nabi.

Pada saat Muhammad berusia enam tahun, ibunya Aminah binti Wahab mengajaknya ke Yatsrib (sekarang Madinah) untuk mengunjungi keluarganya serta mengunjungi makam ayahnya. Namun dalam perjalanan pulang, ibunya jatuh sakit. Setelah beberapa hari, Aminah meninggal dunia di Abwa’ yang terletak tidak jauh dari Yatsrib, dan dikuburkan di sana. Setelah ibunya meninggal, Muhammad dijaga oleh kakeknya, ‘Abd al-Muththalib. Setelah kakeknya meninggal, ia dijaga oleh pamannya, Abu Thalib. Ketika inilah ia diminta menggembala kambing-kambingnya di sekitar Mekkah dan kerap menemani pamannya dalam urusan dagangnya ke negeri Syam (Suriah, Lebanon, dan Palestina).

Hampir semua ahli hadits dan sejarawan sepakat bahwa Muhammad lahir di bulan Rabiulawal, kendati mereka berbeda pendapat tentang tanggalnya. Di kalangan Syi’ah, meyakini bahwa ia lahir pada hari Jumat, 17 Rabiulawal; sedangkan kalangan Sunni percaya bahwa ia lahir pada hari Senin, 12 Rabiulawal (2 Agustus 570 M).

 

MEMPEROLEH GELAR

Ketika Muhammad berumur 35 tahun, ia ikut bersama kaum Quraisy dalam perbaikan Ka’bah. Pada saat pemimpin-pemimpin suku Quraisy berdebat tentang siapa yang berhak meletakkan Hajar Aswad, Muhammad dapat menyelesaikan masalah tersebut dan memberikan penyelesaian adil. Saat itu ia dikenal di kalangan suku-suku Arab karena sifat-sifatnya yang terpuji. Kaumnya sangat mencintainya, hingga akhirnya ia memperoleh gelar Al-Amin yang artinya “orang yang dapat dipercaya”.

Diriwayatkan pula bahwa Muhammad adalah orang yang percaya sepenuhnya dengan keesaan Tuhan. Ia hidup dengan cara amat sederhana dan membenci sifat-sifat tamak, angkuh dan sombong yang lazim di kalangan bangsa Arab saat itu. Ia dikenal menyayangi orang-orang miskin, janda-janda tak mampu dan anak-anak yatim serta berbagi penderitaan dengan berusaha menolong mereka. Ia juga menghindari semua kejahatan yang sudah membudaya di kalangan bangsa Arab pada masa itu seperti berjudi, meminum minuman keras, berkelakuan kasar dan lain-lain, sehingga ia dikenal sebagai As-Saadiq yang berarti “yang benar”.

PENYEBARAN ISLAM

Sekitar tahun 613 M, tiga tahun setelah Islam disebarkan secara diam-diam, Muhammad mulai melakukan penyebaran Islam secara terbuka kepada masyarakat Mekkah, respon yang ia terima sangat keras dan masif, ini disebabkan karena ajaran Islam yang dibawa olehnya bertentangan dengan apa yang sudah menjadi budaya dan pola pikir masyarakat Mekkah saat itu. Pemimpin Mekkah Abu Jahal menyatakan bahwa Muhammad adalah orang gila yang akan merusak tatanan hidup orang Mekkah, akibat penolakan keras yang datang dari masyarakat jahiliyyah di Mekkah dan kekuasaan yang dimiliki oleh para pemimpin Quraisy yang menentangnya, Muhammad dan banyak pemeluk Islam awal disiksa, dianiaya, dihina, disingkirkan, dan dikucilkan dari pergaulan masyarakat Mekkah.

Walau mendapat perlakuan tersebut, ia tetap mendapatkan pengikut dalam jumlah besar, para pengikutnya ini kemudian menyebarkan ajarannya melalui perdagangan ke negeri Syam, Persia, dan kawasan jazirah Arab. Setelah itu, banyak orang yang penasaran dan tertarik kemudian datang ke Mekkah dan Madinah untuk mendengar langsung dari Muhammad, penampilan dan kepribadiannya yang sudah terkenal baik memudahkannya untuk mendapat simpati dan dukungan dalam jumlah yang lebih besar. Hal ini menjadi semakin mudah ketika Umar bin Khattab dan sejumlah besar tokoh petinggi suku Quraisy lainnya memutuskan untuk memeluk ajaran islam, meskipun banyak juga yang menjadi antipati mengingat saat itu sentimen kesukuan sangat besar di Mekkah dan Medinah. Tercatat pula Muhammad mendapatkan banyak pengikut dari negeri Farsi (sekarang Iran), salah satu yang tercatat adalah Salman al-Farisi, seorang ilmuwan asal Persia yang kemudian menjadi sahabat Muhammad.

Penyiksaan yang dialami hampir seluruh pemeluk Islam selama periode ini mendorong lahirnya gagasan untuk berhijrah (pindah) ke Habsyah (sekarang Ethiopia). Negus atau raja Habsyah, memperbolehkan orang-orang Islam berhijrah ke negaranya dan melindungi mereka dari tekanan penguasa di Mekkah. Muhammad sendiri, pada tahun 622 hijrah ke Yatsrib, kota yang berjarak sekitar 200 mil (320 km) di sebelah Utara Mekkah.

 

POLA KEMIMPINAN

 

  • Human relation (hubungan kemanusiaan)

Muhammad saw telah memberikan pengaruh yang luar biasa pada kehidupan para pengikutnya. Kemampuan dan gaya mengatur dan memimpin para pengikutnya sungguh luar biasa. Para pengikutnya sangat mempercayainya, sebagai pemimpin yang selalu menjadi pembimbing dalam berbagai masalah.

Kebesaran beliau terletak pada kesederhanaannya dan kemuliaannya terletak pada keramahannya. Predikat Rasul yang telah beliau sandang tidaklah menjadikannya sebagai orang yang sombong, hidup dalam kemewahan bergelimang harta, tetapi beliau lebih memilih hidup dalam kemiskinan dan kezuhudan. Beberapa catatan melukiskan bagaimana beliau dan keluarganya terutama putri tercintanya Fathimah, merasakan kelaparan hingga beliau sering mengikat perutnya dengan sebutir batu untuk menekan rasa lapar. Semua hak istimewa dan karunia yang Allah berikan padanya tidak membuat beliau untuk menyombongkan diri, beliau begitu sederhana dan tetap mengatakan “kemiskinan adalah kebanggaanku”. Ia lebih bersifat low profile, lebih suka berkumpul dengan orang-orang fakir miskin. Bahkan sebagai seorang pemimpin negara, beliau biasa mendatangi masyarakat lapisan bawah untuk silaturrahmi mempererat tali persaudaraan, sebagaimana beliau sendiri juga merupakan bagian dari masyarakat itu. Bahkan pernah dalam suatu kisah Nabi sedang berkumpul dengan para sahabat unutuk memberikan ilmu pengetahuan. Tiba-tiba datang seorang yang buta menyela pembicaraan beliau. Beliau tidak mendengarkan orang itu hingga turunlah ayat sebagai peringatan dari Allah. Teguran illahi ini mendorongnya untuk lebih seimbang dalam berbuat baik terhadap setiap orang. Jika seorang datang dengan suatu permintaan, dia tidak akan disuruh pergi sebelum permintaannya dikabulkan, atau sebelum dia setidak-tidaknya menerima jawaban yang ramah. Keramahan dan pemberian Nabi Muhammad saw tertuju pada semua orang, dia bagaikan seorang ayah bagi para sahabatnya.

Pelaksanaan pendidikan ukhuwah (persaudaraan), Nabi Muhammad saw. yang pertama dilakukan yakni mempersatukan antara kaum Muhajirin dan Anshar. Untuk mempersatukan kelurga itu Nabi Muhammad saw. berusaha untuk mengikatnya menjadi satu kesatuan yang terpadu. Ikatan pertama yang menghubungkan antara hati mereka yaitu iman kepada Allah dan Rasul-Nya. Beliau meyakinkan kepada mereka bahwa “umat yang beriman itu bersaudara, karena itu perbaikilah hubungan persaudaraan”. Maka Nabi Muhammad saw. mengusahakan perbaikan sistem persaudaraan mereka yang semula sering berselisih, saling bunuh dan sebagainya. Antara orang-orang beriman satu sama lain harus saling bantu-membantu dalam menghadapi persoalan hidup, mereka harus bekerja sama dalam mendatangkan kebaikan, mengurus kepentingan bersama dan menolak kemudahan atau kejahatan yang menimpa. (QS. Al-Anbiya: 107).

  • Memelihara suasana dialogis.

Satu hal lagi yang menjadi pola kepemimpinan Nabi Muhammad saw. yang telah dipraktikkannya, yakni sikap Nabi yang selalu toleran terhadap siapapun. Di mana di dalamnya terdapat proses interaksi antara Nabi Muhammad saw. dengan ummatnya. Hal ini sesuai dengan firman-Nya dalam surat An-Nahl ayat 125, yaitu:

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَم

ُ

 بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ [١٦:١٢٥]

 “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dia-lah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”.(Q.S. An-Nahl: 125).

Ayat ini menggambarkan bahwa para pemimpin harus senantiasa mengedepankan suasana dialogis dengan bersedia bertukar pikiran melalui cara yang lebih baik dengan orang-orang yang dipimpinnya. Sikap seperti ini sering NabiMuhammad saw. Lakukan dalam kepemimpinannya. Suasana dialogis tersebut tumbuh dalam sebuah kepemimpinan demokratis dengan ciri berusaha menyinkronkan antara kepentingan dan tujuan, mengutamakan kerja sama dalam pencapaian tujuan, terbuka terhadap kritik, mau menerima saran dan pendapat orang lain. Sikap-sikap seperti itulah yang dilakukan Nabi Muhammad saw. ketika menerima kritik dan saran. Inipernah terjadi ketika ada peristiwa– seorang sahabat mengkritik tentang sistem pembagian harta ghanimah dari salah satu peperangan yang terjadi. Nabi mendengar kritik ini dengan lapang dada walaupun kritik itu tidak benar.

Sikap terbuka terhadap kritik dan mendengar pendapat orang lain beliau tunjukkan dalam proses musyawarah yang menjadi ciri kepemimpinan beliau yang bersifat demokratis. Allah telah memerintahkan Nabi Muhammad saw. Untuk bermusyawarah dengan para sahabatnya dalam urusan-urusan penting dalam memperhatikan pandangan mereka sebelum mengambil keputusan. Beliau memberikanteladan besar bagi para pengikutnya dan menciptakan semangat demokrasi serta kejujuran di kalangan mereka.

Sesuai petunjuk al-Qur’an Nabi Muhammad saw mengembangkan budaya musyawarah di kalangan para sahabat. Meskipun beliau seorang rasul tidak enggan beliau meminta pendapat dan berkonsultasi kepada para sahabat dalam masalah kemasyarakatan, tetapi dalam berkonsultasi Nabi Muhammad saw. tidak hanya mengikuti satu pola saja, sering kali beliau bermusyawarah hanya kepada beberapa senior saja. Tidak jarang pula beliau hanya meminta pertimbangan dariorang-orang yang ahli dalam hal yang dipersoalkan/profesional. Terkadang beliau melemparkan masalah- masalah kepada pertemuan yang lebih besar khususnya masalah-masalah yang mempunyai dampak luas bagi umat. Terkadang Nabi Muhammad saw. tidak selalu mengikuti nasihat para sahabat, beliau melakukan hal itu karena sering mendapat petunjuk dan wahyu dari Allah.

Salah satu peristiwa yang memberi bukti bahwa Nabi Muhammad saw selalu mengedepankan budaya musyawarah sebagai wujud beliau yang demkratis terhadap siapapun yakni Menjelang perang badar Nabi Muhammad saw. memutuskan posisi bagi beliau dan pasukan Islam yang pada saat itu berada di dekat mata air.

Kemudian seorang yang berasal dari kelompok Anshor, bernama Hubbab bin Mundhir datang kepada Nabi dan menanyakan apakah keputusan Nabi itu berdasarkan atas petunjuk dari Allah atau keputusan beliau sendiri dalam menghadapi strategi perang. Nabi menjawab bahwa keputusan itu semata-mata perhitungan beliau dan bukan atas petunjuk Allah. Kemudian Hubbab mengusulkan pendapat bahwa sebaiknya pasukan Islam menempati posisi lebih maju dekat mata air yang paling depan, sehingga pasukan Islam dapat mengisi kantong air mereka kalaupun nanti pasukan Islam harus terpaksa mundur. Baru kemudian mata air ditutup dengan pasir agar pasukan musuh tidak dapat memperoleh air. Atas saran itu Nabi menerima dan

mengikuti apa yang diusulkan oleh Hubbab.

Nabi Muhammad tidak merasa malu, bahkan menganjurkan supaya menerima pendapat dan saran (nasihat) dari orang yang pekerjaannya atau pendidikannya rendah sekalipun. Ini menunjukkan bahwa pada diri Nabi Muhammad saw. tidak ada sifat keangkuhan intelektual (intellectual shobism)[10] yang merasa paling pandai dan serba tahu yang menjadi ciri tipe pemimpin paternalistik.

  • Keteladanan (uswatun hasanah) dan amar makruf nahi munkar.

Muhammad dalam kedudukannya sebagai sang pendidik memiliki beberapa tugas spesifik dalam kaitannya dengan pendidikan. Al-Quran yang merupakan visualisasi dari tugas yang harus dijalankan Nabi memuat ayat-ayat yang menguatkan misi kependidikan dalam kepemimpinannya. Di kalangan muslim Muhammad dikenal dan diyakini sebagai Nabi dan Rasul terakhir (penutup); dengan demikian tugas Nabi Muhammad menyampaikan segala hal yang berkaitan dengan risalah terakhir di bidang akidah, ibadah dan muamalah, melalui proses pendidikan.

Al-Quran bagi Muhammad tidak sekedar kitab suci yang memberikan justifikasi kenabian terhadap dirinya, lebih dari itu al-Quran merupakan penjelasan tentang konsep pendidikan Tuhan bagi hambanya. (QS. An-Nahl: 44).

Internalisasi nilai-nilai edukatif al-Quran yang dilakukan oleh Nabi tidak saja lewat nasihat dan pengajaran lain, namun diri Muhammad sendiri menjadi contoh yang hidup bagi dasar-dasar kepemimpinan dalam pendidikan yang dikembangkannya. Nabi Muhammad saw. dalam rangka membawa manusia menjadi manusiawi Rasulullah dijadikan oleh Allah dalam peribadinya teladan yang baik. Sebagaimana bunyi firman Allah :

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

[٣٣:٢١]

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagi (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut nama Allah” (Q.S.al-Ahzab :21).

Apa yang ada dalam lisannya sama dengan apa yang ada di dalam dadanya.Sehingga apapun yang diajarkan oleh Muhammad segera diterima oleh para sahabat karena ucapannya telah diawali dengan contoh konkret, teladan yang baik dan selalu mengajak yang makruf mencegah yang munkar. Nabi Muhammad saw. Selalu menekankan pada umatnya untuk beramar makruf dan menjauhi hal yang mungkar, sehingga seruannya didengar dan dilaksanakan dengan sungguh-sungguh oleh umatnya.

ANALISIS :

MUHAMMAD SAW merupakan contoh seorang tokoh yang paling ideal di muka bumi ini, semenjak kecil beliau sudah terlihat akan aura kepemimpinan oleh orang-orang disekelilingnya. Beliau ramah, jujur, rendah hati, tidak sombong, visioner, serta memiliki pikiran yang lurus yang merupakan salah satu sifat-sifat yang layaknya dimiliki oleh seorang pemimpin. Beliau sangat demokratis dan terbuka dimana beliau selalu mendengarkan berbagai saran dan nasihat dari kebanyakan kaumnya, selalu mementingkan kepentigan mereka melebihi kepentinganya sendiri.

Berikut ini merupakan karakteristik beliau :

  • Beliau menomorsatukan fungsi sebagai landasan dalam memilih orang atau sesuatu, bukan penampilan atau faktor-faktor luar lainnya.
  • Beliau mengutamakan segi kemanfaatan daripada kesia-siaan.
  • Beliau mendahulukan yang lebih mendesak daripada yang bisa ditunda.
  • Beliau lebih mementingkan orang lain daripada dirinya sendiri.
  • Beliau memilih jalan yang tersukar untuk dirinya dan termudah untuk umatnya.
  • Beliau lebih mendahulukan tujuan akhirat daripada maksud duniawi.

Dari karakteristik diatas maka kita bisa menyimpulkan bahwa beliau merupakan sosok pemimpin yang sempurna dan sukses dalam memimpin kaumnya selama 22 tahun sehingga cocok dijadikan teladan bagi pemimpin-pemimpin saat ini.

 

SUMBER

http://muhakbarilyas.blogspot.com/2012/07/pola-kepemimpinan-nabi-muhammad-saw.html

http://musa-abdul-jabbar.blogspot.com/2012/07/pengertian-kepemimpinan.html

http://id.wikipedia.org/wiki/Kepemimpinan

http://zeincom.wordpress.com/2011/10/23/pttk/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s