JKW4P

Jumat selalu menjadi hari keramat di Indonesia. Mulai dari urusan hukum, korupsi, dan kini sampai ke politik. Jumat (14/3), PDI Perjuangan melakukan manuver politik yang menarik perhatian banyak orang. Yaitu, memberikan mandat kepada Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) untuk menjadi capres pada pilpres mendatang.

Bagi banyak orang, kabar ini cukup mengejutkan. Karena selama ini mantan wali kota Surakarta itu selalu mengelak ketika ditanya soal pencapresan. Alasannya, lebih memilih sibuk mengurus macet, banjir, dan segala masalah ibu kota ketimbang memikirkan untuk menjadi capres.

Bahwa Jakarta lebih penting ketimbang berbicara mengenai kursi presiden. Nyatanya, Jokowi langsung mengucap basmallah dan menerima mandat dari puteri Sukarno tersebut. Bak di film-film perjuangan, ia bahkan langsung mencium bendera Merah Putih yang ada di dekatnya. 

Ternyata, ‘keihklasan’ Jokowi menerima mandat itu berdampak cukup panjang. Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) langsung terdongkrak naik. Indeks harga saham gabungan ditutup menguat 3,23 persen ke level 4.878,64. Dikatakan, penguatan IHSG didorong oleh aksi beli investor asing. 

Kali ini, aksi beli mencapai Rp 7,46 triliun. Menariknya, transaksi harian melonjak dibandingkan hari biasa, yaitu Rp 15,69 triliun. Aksi beli asing dan nilai perdagangan ini merupakan yang tertinggi dalam sejarah bursa Indonesia. Bahkan melebihi yang pernah dicapai pada Mei 2013 ketika stimulus ketiga the Fed memasuki ke pasar Indonesia.

Tak hanya itu, keputusan PDI Perjuangan pun langsung disambut militer. Kalangan purnawirawan TNI langsung menyatakan dukungannya atas keputusan Megawati tersebut. Termasuk siap untuk membantu mengamankan pemilu agar dapat berjalan aman dan lancar.

Semua orang langsung tersirap oleh berita mengenai Jokowi. Berita Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang melakukan koordinasi penanganan kabut asap di Riau pun teralihkan. Orang juga lupa dengan nasib para penumpang dan awak pesawat Malaysia Air bernomor MH370 yang hingga saat ini masih hilang. Semua berbicara mengenai Jokowi for president.

Tapi, Jokowi effect tak melulu berbuah berita bagus. Banyak yang menyatakan kecewa karena merasa belum waktu bagi Jokowi untuk melenggang ke kancah nasional. Bahwa ia masih memiliki utang untuk menyelesaikan masalah ibu kota yang semerawut. Bahwa ia selalu mengatakan tak akan nyapres pada pemilu tahun ini.

Keputusan PDI Perjuangan dan Jokowi juga langsung menaikkan suhu politik di Tanah Air. Lawan politik partai moncong putih itu langsung bereaksi. Bahkan, ada tokoh yang sudah menyatakan akan maju pilpres dikabarkan langsung berang dan sampai menendang meja.  

Beredar pula kemudian dokumen kesepakatan antara Megawati dan Prabowo Subianto yang dikenal dengan sebutan Perjanjian Batu Tulis. Perjanjian itu terdiri dari tujuh poin serta ditandatangani langsung oleh Megawati dan Prabowo. Dalam poin tujuh tertulis, kalau Megawati akan mendukung pencalonan Prabowo pada pemilu presiden 2014. 

Gerindra juga bergerak cepat dan langsung berencana untuk mengusung Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menjadi cawapres menemani Prabowo.

Tak pasti alasan dari reaksi-reaksi atas pencalonan Jokowi tersebut. Namun, alasan yang paling masuk akal adalah jika melihat tingkat popularitas dan elektabilitas Jokowi yang paling tinggi di antara kandidat-kandidat lain. Semua beraksi seakan Jokowi sudah menjadi presiden bahkan sebelum pemilu digelar.

Analis menyatakan, pasar bereaksi karena adanya kepastian penunjukan Jokowi yang maju dengan gaya kepemimpinan yang berbeda dari pendahulunya. Sedangkan kompetitor langsung merasa kesempatan untuk menang pemilu semakin menipis.

Tapi apakah pasti kursi RI 1 menjadi milik gubernur yang hobi blusukanitu? Tentunya tidak. Karena pada akhirnya suara rakyat yang akan menentukan. Apalagi, saat ini sudah ada suara-suara sumbang yang kecewa dengan kinerja Jokowi di DKI. Mulai dari isu banjir dan macet yang tak kunjung selesai. Hingga masalah pengadaan bus Transjakarta rusak.

Pesta sudah dimulai dan pesertanya pun mulai nampak. Tak ada lagi waktu untuk malu-malu untuk meraih kursi politik pada pemilu mendatang. Sekarang saatnya kita melihat baik-baik dan menimbang dengan cermat. Siapa kandidat yang paling berhak untuk menjadi orang nomor satu di Indonesia.

Mari kita melihat dengan jernih dan meninggalkan fanatisme semu atas satu calon atau termakan pencitraan semata. Kita harus jeli melihat rekam jejak serta apa yang mereka tawarkan untuk Tanah Air selama lima tahun ke depan. Karena nasib bangsa ke depan ada di tangan Anda, di tangan kita. 

 

sumber : http://www.republika.co.id/berita/kolom/fokus/14/03/15/n2fvqh-jokowi-janji-utang-dan-bismillah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s